“Dialah yang menciptakanmu dari satu Jiwa dan darinya dijadikan-Nya jodohnya supaya (manusia) dapat menikmati ketentraman hati dengan pasangan [...] Dia menciptakan manusia dari satu Jiwa, lalu darinya dijadikan-Nya jodohnya...” — QS. 7: 189; 39: 6
——————————
DALAM tarikan napas dou Mbojo, kata weki adalah titik temu yang merangkum diri dan jiwa dalam satu wadah penubuhan. Kata ini biasa diungkapkan melalui frasa “kasama weki”—menyatukan tujuan dan tekad—atau “kaboro weki” yang menggambarkan laku khidmat saat bersama-sama.
Secara teologis, weki menjadi padanan presisi bagi nafsin wāḥidah dalam Al-Qur'an yang menjembatani dimensi batin sekaligus menegaskan bahwa diri-diri yang banyak (maujud) pada hakikatnya merupakan Diri yang satu (wujud). Kesatuan ini melampaui sekat-sekat individualitas. Setiap diri adalah ruang resonansi tempat pantulan Cahaya yang sama bersemayam.
Dalam tuturan ini, setiap perjumpaan antar-manusia adalah peristiwa mengenali kembali bagian-bagian dari satu Jiwa yang dahulu dipencarkan untuk kemudian saling menemukan ketenangan.
Lombo: Selimut Rahasia antara Sarumbu dan Weki
Terdapat dialektika spiritual ketika dou Mbojo membedakan antara istilah weki (diri/jiwa) dengan sarumbu (badan/tubuh). Ungkapan “weki na lomboku sarumbu atau sarumbu na lomboku ba weki”—diri menyelimuti badan—adalah kematangan "kemanusiaan" sebagai subjek.
Ungkapan tersebut membangkitkan kesadaran eksistensial pada level ontologis. Di sini, weki menempati ruang batiniyah, sementara sarumbu adalah dimensi lahiriyah. Kata lombo (meliputi atau membaluti) menjadi kunci yang mengikat antara keduanya.
Penyebutan lombo mengisyaratkan raga hanyalah selubung yang menubuh. Tubuh adalah pakaian yang dikenakan oleh diri yang sejati (jiwa). Hubungan ini melampaui kaitan fisik; ia adalah persentuhan sifat dan keadaan manusia yang mengaitkan jiwa, raga, dan roh dalam satu kesatuan utuh.
Hilomorfisme Antropolinguistik Mbojo
Relasi antara sarumbu dan weki dalam tutur dou Mbojo menemukan jangkar teoretisnya pada konsep Hilomorfisme Antropologis. Sebuah cara pandang yang melihat manusia sebagai pertautan antara "zat" (esensi murni yang abstrak) dengan "bentuk" (pemberi sifat) hingga melahirkan "isi pokok".
Dalam logika dou Mbojo, sarumbu (tubuh) diposisikan sebagai "zat", sedangkan weki (jiwa) berperan sebagai "bentuk" yang memberi manusia kodratnya. Keduanya tidak berdiri sendiri dalam ruang hampa. Mereka saling bergabung, saling mengisi, mustahil dipisahkan.
Sarumbu tanpa weki kehilangan makna dan Weki tanpa sarumbu kehilangan sarana untuk menyatakan diri di alam semesta. Dengan demikian, sarumbu adalah aktualitas dari potensi weki di dunia material yang memungkinkan jiwa mengecap pengalaman, rasa, dan tindakan.
Pata Sara’a Ntanda Kasabua: Puncak Kesadaran Spiritual Dou Mbojo
Kemanusiaan menemukan pijakan kosmisnya dalam jalinan ini, raga dan jiwa adalah kepingan koin yang sama dalam sirkulasi eksistensi. Eksplorasi batin ini mencapai puncaknya pada tiga level kesadaran spiritual dou Mbojo.
Manusia dilihat sebagai entitas berlapis yang koheren: (1) sarumbu atau raga sebagai objek yang tampak, (2) weki atau diri/jiwa sebagai subjek yang merasa dan berkehendak, (3) Roh sebagai Super-Subjek (Tuhan) yang menjadi pusat dari segala pusat.
Prinsip “pata sara’a ntanda kasabua” hadir sebagai the principle of unity. Sebuah model relasi yang tidak lagi mengenal sekat-sekat dualitas atau objek yang menubuh lainnya. Sebab, antara yang meliputi dan yang diliputi, dan antara yang menyembunyikan dan yang disembunyikan menyatu dalam satu harmoni.
Pada akhirnya, weki dalam penuturan dou Mbojo melampaui makna simbolik linguistik yang menyatakan sesuatu sekaligus tentang sesuatu itu sendiri. Ia adalah kesaksian primordial; bahwa di balik raga yang fana, bersemayam jejak Sang Maha Jiwa []
Sukma Rasa
28/02/2026
Wangsyah